Seri ASiK – Usaha Manusia Mencari Keselamatan

ASiK #1 (Pdt. Aiter): Manusia Dicipta dari Apa Ya?
SERI 1 ASiK (Pdt. Aiter): MANUSIA DICIPTA DARI APA YA? Sabtu, 8 Agt 2020 (Pk. 17.00 WIB)
Persembahan mendukung pelayanan rutin SERI ASiK dapat ditransfer ke
Rek. BCA 018 258 4868 (an. GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA)

Kunjungi Website Kami di https://griicitra.org/

PA Khusus – Kota yang Dikunjungi Yesus

Vik. Bakti Anugrah - PA Khusus KOTA YANG DIKUNJUNGI YESUS: GALILEA
PA KHUSUS KOTA YANG DIKUNJUNGI YESUS: GALILEA
Kamis, 5 Nov 2020
Pk. 18.30 - 20.30 WIB
oleh: Vik. Bakti Anugrah

Rekan Sekalian yang ingin memberikan persembahan untuk PA, dapat transfer ke rekening
BCA 010-3355-700 a.n/ Gereja Reformed Injili Indonesia
Kunjungi Website Kami di https://griicitra.org/

Seri ASiK – Manusia & Dosa​

ASiK #1 (Pdt. Aiter): Manusia Dicipta dari Apa Ya?
SERI 1 ASiK (Pdt. Aiter): MANUSIA DICIPTA DARI APA YA? Sabtu, 8 Agt 2020 (Pk. 17.00 WIB)
Persembahan mendukung pelayanan rutin SERI ASiK dapat ditransfer ke
Rek. BCA 018 258 4868 (an. GEREJA REFORMED INJILI INDONESIA)

Kunjungi Website Kami di https://griicitra.org/

Jangan Menyia-nyiakan Tahun Ini

Khotbah: Vik. Bakti Anugrah. Bacaan: Yohanes 11:1-16; 25-27.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melakukan pemborosan, misalnya: tidak mematikan kran sehingga air terbuang percuma; memakai tisu terlalu banyak; lupa mematikan AC sehingga terus menyala saat tidak ada orang; memesan makanan berlebihan sehingga kekenyangan lalu membuangnya sia-sia, dsb. Selain pemborosan energi dan materi, tanpa sadar kita juga memboroskan waktu, kesempatan dan anugerah Tuhan. Kita sia-siakan hidup bertujuan yang telah Tuhan ciptakan bagi kita.

Ide dan kerangka khotbah ini diperoleh dari seorang hamba Tuhan yang bernama Steven Cole. Dia bertanya, “Bagaimana jika kita masing-masing memiliki uang 1.440 dolar AS per hari yang harus dihabiskan pada hari itu juga?” Kira-kira uang 1.440 dolar AS (= 20,5 juta rupiah) itu akan kita habiskan untuk apa? Jika 1.440 dolar itu diganti menjadi 1.440 menit (= 24 jam x 60 menit), maka 1.440 menit itu akan kita gunakan untuk apa setiap hari? Jika diasumsikan 1 hari (= 24 jam) yang dibagi 8 jam untuk tidur, 8 jam untuk aktivitas sehari-hari (seperti: makan, mandi, bekerja, pulang pergi, dsb) maka masih ada sisa sepertiganya yaitu 8 jam. Berarti dalam 1 tahun (= 365 hari), kita memiliki 365 x 8 jam = 2.920 jam untuk kita hidupi. Sekarang pertanyaannya: bagaimana kita menggunakan waktu yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita?

Sebuah ungkapan dari C.T. Studd berbunyi: “Only one life, ‘twill soon be past. Only what’s done for Christ will last” memiliki arti: “Hidup hanya satu kali, akan segera berlalu. Hanya apa yang dilakukan bagi Kristus akan tinggal tetap.” Memang hidup manusia itu hanya 1 kali dan tidak ada reinkarnasi. Hanya yang dilakukan bagi Kristuslah yang bertahan, semua yang lain tidak akan bertahan. Namun ungkapan tersebut tidak bisa dipahami seolah-olah semua yang kita lakukan haruslah merupakan hal-hal yang rohani karena kita masih harus menjalani kehidupan ini dengan membayar tagihan listrik, mencicil rumah, memotong rumput, merawat mobil, dsb. Tentu saja, kita butuh waktu untuk melakukan hal-hal semacam itu. Tetapi setelah semuanya itu selesai, apakah kita menggunakan waktu yang ada untuk memajukan Kerajaan Tuhan dan melakukan kehendak-Nya, seperti dalam kalimat Doa Bapa Kami yang berbunyi: “Datanglah Kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu (Mat. 6:10)”?

Kristus telah memberi Diri-Nya disalibkan untuk menebus kita dari dunia yang jahat, maka merupakan suatu tragedi jikalau hidup kita dibuang sia-sia. Tuhan Yesus merupakan contoh teragung bagi kita tentang bagaimana menggunakan hidup secara produktif bagi Allah. Uniknya Tuhan Yesus baru memulai pelayanan pada usia 30 tahun dan hanya dalam waktu yang pendek yaitu 3 tahun: (a) Dia melakukan pelayanan bersama sekelompok orang yang paling tidak mungkin Tuhan tetapi mereka dipakai-Nya untuk mengubah sejarah di mana dari ke-12 orang murid-Nya itu terdapat 1 orang pengkhianat (Yudas), 1 orang penyangkal (Petrus), 9 orang pengecut dan hanya 1 orang yang tertinggal (Yohanes). (b) Dia selalu memiliki waktu bagi orang-orang yang datang kepada-Nya. Contoh: ketika akan minum dan makan siang, Yesus masih sempat bercakap-cakap dengan perempuan Samaria di tengah panas terik; Dia juga memiliki waktu untuk bertemu dengan pengemis buta, orang gila yang kerasukan setan, dan masih banyak lagi. (c) Dia selalu memiliki waktu untuk mengerjakan segala sesuatu tepat pada waktunya. Dalam Injil Yohanes berulang kali ditulis: “saatnya telah tiba” (Yoh. 4:23; Yoh. 5:25; Yoh. 12:23; Yoh. 17:1). Jadi: “selalu ada waktunya.” Itu disebabkan karena inti dari segala sesuatu yang dilakukan Tuhan Yesus adalah Dia memiliki persekutuan yang erat dengan Bapa-Nya dan kehendak-Nya sepenuhnya ditaklukkan kepada Bapa. Kita juga harus melakukan latihan rohani ini bertahun-tahun di mana kita berkomunikasi dengan Tuhan, lalu menundukkan kehendak kita sepenuhnya kepada-Nya. (d) Dia tidak pernah terburu-buru karena memiliki “sense of timing” yang tepat. Seperti dalam kisah Yoh. 11:1-44 ini dimana Tuhan Yesus pergi ke Betania untuk membangkitkan Lazarus setelah ia mati, bukan menyembuhkannya sebelum mati. Cole berkata, “Kita hanya bisa menggunakan waktu dengan tepat jika kita hidup dalam ketundukan pada rencana Allah dan hidup dalam terang-Nya yang kekal,” jadi bukanlah memandang pada dunia yang sementara ini.

Dengan hidup yang tunduk pada rencana Allah dalam terang kekekalan, kita akan fokus dan tenang untuk mengerjakan segala sesuatu dengan tepat. Tuhan Yesus menggunakan waktu dengan tepat sehingga hidup-Nya efektif. Ketika datang utusan yang membawa berita bahwa sahabat-Nya yaitu Lazarus (saudara Maria dan Marta) sedang sakit, Dia malah sengaja mengambil keputusan untuk tinggal 2 hari lagi. Ada 2 pendapat mengenai saat kematian Lazarus: (1) Lazarus sudah mati saat utusan itu datang. (2) D. A. Carson mengatakan bahwa Lazarus masih hidup saat utusan itu datang. Dia baru mati ketika Yesus berkata, “Lazarus sudah mati.” (Yoh. 11:14). Jadi setelah Yesus sengaja tinggal 2 hari lagi di tempat-Nya berada, barulah Lazarus mati. Namun apapun pendapatnya, yang pasti Lazarus sudah mati dan tubuhnya telah membusuk ketika Yesus tiba di Betania 4 hari kemudian. Lalu Dia memanggil Lazarus keluar dari kuburnya. Demonstrasi tersebut menyatakan bahwa: (1) kuasa-Nya supranatural. (2) Yesus adalah Kebangkitan dan Hidup. Siapapun yang percaya kepada-Nya tidak akan mati selama-lamanya (Yoh. 11:25-26). Jadi Yesus sengaja menggunakan kematian Lazarus ini untuk menyatakan kedua hal tersebut. Dari sini, kita dapat belajar bagaimana Tuhan Yesus mengambil keputusan, di mana:

A. KEPUTUSANNYA TIDAK BERGANTUNG pada:

(1) Tekanan dari teman-teman-Nya. Jikalau belum waktunya Dia tidak akan datang. Padahal Yesus bisa: (a) segera berangkat ke Betania dan meninggalkan apa yang dilakukan-Nya di seberang Sungai Yordan. (b) mengirimkan kuasa-Nya untuk menyembuhkan Lazarus dari jarak jauh jika tidak berangkat ke Betania, seperti yang dilakukan-Nya ketika menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum (Mat. 8:5-13). Tetapi Yesus tidak melakukan kedua hal tersebut. Ini bukan berarti lalu kita abaikan saja nasihat dari teman-teman seiman. Tuhan kadang memberi orang-orang Kristen yang baik untuk memberikan nasihat agar kita tidak melakukan kesalahan karena kita buta dan tidak tahu. Tetapi, melakukan kehendak Tuhan harus menjadi keputusan kita yang paling utama. Nasihat teman-teman yang baik bisa mengarahkan kita tetapi jangan menurut jika makin menjauhkan kita dari kehendak-Nya.

(2) Emosi sesaat. Tuhan Yesus tidak membiarkan perasaan-Nya terhadap teman-teman-Nya membuat Dia panik. Dia tidak izinkan emosi-Nya menguasai Diri-Nya walaupun (a) Maria, Marta, dan Lazarus merupakan sahabat Yesus. Dia dekat dengan mereka. Terlihat dari pesan yang disampaikan kepada Yesus berbunyi demikian tentang Lazarus: “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” (b) Maria pernah melakukan perbuatan berkesan yang menunjukkan betapa ia menghormati dan menyembah Tuhan Yesus di mana kaki Yesus diurapinya dengan minyak narwastu yang mahal, yang konon dipakai untuk pernikahan yang hanya sekali saja. Lalu ia menyeka kaki Yesus dengan rambutnya (Yoh. 11:2). Ini dilakukan Maria untuk mengingat kematian atau penguburan Yesus (Yoh. 12:7).

(3) Ancaman para musuh-Nya. Waktu itu, Yesus sedang berada di sebelah timur Sungai Yordan untuk menghindar dari para pemimpin Yahudi yang berusaha menangkap dan membunuh-Nya (Yoh. 10:39-40). Ketika diberitahu bahwa Lazarus sedang sakit di Betania, Dia malah berkata, “Mari kita kembali lagi ke Yudea.” (Yoh. 11:7). Para murid-Nya berespons dengan berkata, “Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?” (Yoh. 11:8). Mereka berpikir jika Yesus kembali ke Yudea dan mereka mengikuti Dia itu sama saja ‘cari mati.’ Tetapi Tuhan Yesus tidak memutuskan hendak pergi ke mana berdasarkan ancaman dari para musuh-Nya.

Jadi Dia memiliki alasan untuk pergi dan tidak pergi. Alasan pergi segera karena tekanan teman dan emosi sesaat; sedangkan alasan tidak pergi adalah karena ada musuh di situ. Tuhan Yesus tidak mengambil keputusan berdasarkan dua hal tersebut. Rasul Paulus juga demikian dalam mengambil keputusan. Ia tetap pergi ke Yerusalem walau nabi Agabus telah memberitahunya dan orang-orang menahannya agar tidak pergi karena dia akan diikat (Kis. 21:11-14). Tetapi Rasul Paulus menjawab, “Aku ini rela bukan hanya untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem karena nama Tuhan Yesus.” Jadi sebagai hamba Tuhan, dia tahu bahwa dia harus melakukan kehendak Tuhan tanpa perlu takut terhadap para musuhnya. Namun di sisi lain kadang perlu juga untuk “melarikan diri.” Rasul Paulus pernah melakukannya dibantu para rekannya (Kis 9:23-25, 29-30). Memang benar kita jangan ‘cari penyakit,’ tetapi benar juga: “lebih aman bersama dengan Tuhan Yesus di tempat berbahaya daripada tidak bersama Dia di tempat yang kelihatannya aman.” Jika kita dipanggil untuk melakukan sesuatu, kita tidak boleh menghindar dengan alasan diancam, seperti Nehemia yang tidak mau diintimidasi oleh ancaman dari Sanbalat, Tobia dan Gesyem (Neh. 6).

B. KEPUTUSANNYA BERDASARKAN pada:

(1) Apa yang akan memuliakan Tuhan. Yoh 11:4 Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.” Ini berarti: (a) Yesus tahu betul akan masa depan, khususnya masa depan Lazarus di mana Tuhan akan membangkitkannya dari kematian. Kebangkitan Lazarus tentu akan menyingkirkan kesedihan Maria dan Marta. Tetapi lebih dari itu, dengan cara yang luar biasa dan berkuasa, kebangkitan-Nya menyatakan bahwa “Yesus adalah kebangkitan dan hidup” (Yoh. 11:25). (b) Yesus memiliki level yang sama dengan Tuhan karena Dia mengklaim akan berbagian dalam kemuliaan Allah. Sepertinya terdengar arogan dan menghujat, tetapi Dia tetap mengatakannya karena Dia adalah Allah itu sendiri. Sebab tidak mungkin, Allah yang menyatakan Diri-Nya sebagai Allah yang cemburu (Kel. 20:5) mau berbagi kemuliaan dengan manusia manapun. Kalau Yesus bisa mengatakan: “Anak Manusia akan dimuliakan”, itu sama saja dengan menyatakan bahwa “Dia adalah Tuhan.” Maka seperti Tuhan Yesus, kemuliaan Tuhan harus merupakan prioritas dalam hidup kita, bahkan di atas kenyamanan dan kelepasan kita dari pencobaan. Oleh karena itu, apa yang paling memuliakan Tuhan harus kita kejar sebagai keputusan dalam hidup kita.

(2) Bagaimana Dia berjalan di dalam terang untuk melakukan tujuan/kehendak Tuhan. Yoh. 11:9-10 Jawab Yesus: “Bukankah ada 12 jam dalam 1 hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini. Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya.” Jawaban Yesus atas perkataan para murid-Nya di ayat 8 mengandung 2 makna: (a) Yesus mengacu pada 12 jam dalam siang hari yaitu waktu di mana seseorang masih dapat bekerja. Jika malam datang maka tidak ada seorang pun yang dapat bekerja (Yoh. 9:4). Orang Yahudi membagi hari menjadi 2 bagian yaitu: (i) malam: pk. 18.00 s/d pk. 6.00. (ii) siang: pk. 6.00 s/d pk. 18.00. Masing-masing terdiri dari 12 jam. Di sini, Tuhan telah menetapkan sejumlah waktu yaitu 12 jam pada siang hari bagi Diri-Nya dan kita untuk bekerja. Selama waktu-Nya belum selesai Dia tahu meskipun Dia pergi ke Yudea, tidak akan ada yang membunuh-Nya. Kita pun demikian. Tetapi jika waktu kita sudah habis maka kita sudah tidak memiliki kesempatan untuk melayani/bekerja lagi. (b) selama Yesus ada di dalam dunia, Dia adalah Terang Dunia. Tuhan dengan sengaja mengambil keputusan melakukan pelayanan itu ke Yudea karena waktu-Nya masih ada. Kita pun harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya selama Terang itu ada. Gunakan kesempatan yang diberikan Tuhan untuk melayani-Nya sebisa mungkin selama kita masih bisa. (c) bersama dengan Yesus artinya kita berada dalam Terang. Jaman dahulu belum ada lampu seperti sekarang, maka situasi malam itu benar-benar gelap. Jika kita berada di luar Dia, maka kita sama dengan berada dalam kegelapan dan gampang tersandung. Tetapi jika kita berada di dalam Dia yang adalah Terang, maka kita bisa berjalan. Oleh karena itu, pergi bersama Yesus sekalipun ke tempat berbahaya, itu lebih baik daripada pergi ke tempat yang kelihatan aman tanpa Dia. Seperti Tomas yang telah memilih hal yang benar dengan berkata, “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia (Yoh. 11:16).” Di sini terlihat 1 karakter Tomas yang baik walau terkesan pesimis di mana ia lebih baik mati bersama Yesus daripada hidup tanpa Dia.

(3) Untuk menolong orang lain agar imannya bertumbuh, yaitu:
(a) Para murid-Nya. Mereka pasti sudah percaya kepada-Nya, tetapi iman mereka masih perlu bertumbuh. Maka Tuhan Yesus sengaja mengatakan kalimat yang sangat mencengangkan yaitu: “Lazarus sudah mati, tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.” (Yoh 11:14b-15). Tuhan Yesus tidak membezuk Lazarus ketika sedang sakit tetapi baru datang setelah Lazarus mati, bahkan Dia bersyukur tidak hadir pada waktu itu. Tuhan Yesus bukannya senang dengan kematian Lazarus tetapi senang karena inilah situasi yang akan menghasilkan iman yang lebih besar bagi para murid.

(b) Marta yang sedang berduka. Yoh. 11:25-26 Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati; dari setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.” D. A. Carson mengatakan bahwa kepedulian Yesus bertujuan mengubah fokus Marta dari kepercayaan abstrak yang tidak jelas mengenai kebangkitan pada kedatangan-Nya kembali di akhir zaman menjadi kepercayaan pribadi Marta di mana ia mengalaminya sendiri karena Yesus membuktikannya sekarang. Jadi jika kita percaya kepada Kristus maka kita memiliki hidup kekal di sini dan sekarang. Meski mati secara fisik, kita akan hidup bersama-Nya secara rohani tanpa ada gangguan. Maka Tuhan Yesus dengan terus terang bertanya kepada Marta, “Percayakah engkau akan hal ini?” (Yoh. 11:26). Yesus ingin Marta dan juga kita percaya kepada-Nya.

(c) Orang banyak: Di kubur Lazarus, Tuhan Yesus sengaja berdoa keras sekali: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku (Yoh. 11:41-42).” Jadi Yesus ingin agar orang banyak percaya bahwa Allah Bapa mengutus-Nya, di mana Dia bukan hanya membawa orang pada iman yang menyelamatkan, tetapi juga menguatkan iman mereka yang sudah percaya. Hidup-Nya bernilai karena merupakan hidup yang tunduk pada rencana Allah dalam terang kekekalan.

Hidup kita juga dapat bernilai di hadapan Tuhan ketika tunduk pada kehendak Allah, yaitu:
(1) beralih dari menggunakan hidup secara sia-sia menjadi menggunakannya agar bernilai kekal. Rasul Paulus berkata, “… demi kemurahan Allah, aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan (korban) yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Rm. 12:1). Mempersembahkan diri itu seperti korban yang diikat di mezbah persembahan. Masalahnya, kita ini merupakan korban yang hidup, bukan korban mati yang hanya diam saja ketika ditaruh dan dibakar; kita selalu bisa merangkak turun dari mezbah jika tidak mau taat kepada Tuhan! Maka komitmen mempersembahkan diri itu bukan hanya 1 kali untuk selamanya, tetapi harus terus-menerus diulang. Bukannya tunduk kepada Allah, pemimpin Yahudi justru ingin membunuh Yesus dan Lazarus karena banyak orang Yahudi yang meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus (Yoh. 12:10-11). Bodoh sekali jika mereka ingin membunuh Yesus yang tidak bisa mati. Dia berkuasa atas kematian. Tahukah Saudara akan semacam lilin ulang tahun yang ditiup berapa kali pun tetap akan menyala lagi? Walaupun mereka membunuh Yesus kubur tidak akan sanggup menahan-Nya.

(2) Berjalan dekat dengan Tuhan. Seperti Tuhan Yesus yang berjalan dekat dengan Bapa-Nya dengan selalu ‘stem nada-Nya’ agar sama dengan Allah Bapa.

(3) Berdoa. Tuhan Yesus bisa mencapai begitu banyak pelayanan dalam waktu sempit (3 tahun) karena Dia tahu dengan jelas apa yang harus dilakukan-Nya. Setiap hari sebelum melakukan sesuatu, Dia selalu berdoa. Contoh: Yesus berdoa sebelum memilih para rasul, sebelum naik ke atas kayu salib, sebelum melakukan pelayanan kepada ribuan orang, dll. Banyak hal besar terjadi setelah Dia berdoa. Maka kita harus selalu berdoa.

Untuk mengenal kehendak Tuhan, kita perlu:
(1) mencari terlebih dahulu Kerajaan Allah dan Kebenaran-Nya (Mat 6:33). Ini merupakan satu tujuan yang betul-betul membutuhkan stem terus menerus agar nada sama dengan Allah.

(2) mengasihi Tuhan dan sesama. Tuhan betul-betul telah melakukan kedua hal ini. Kita pun harus demikian. Kasih kepada sesama itu bisa dimulai dari rumah yaitu orang-orang terdekat di sekitar kita seperti pasangan, anak-anak, dst. Kita mulai belajar mengasihi dengan berbicara memakai kata-kata yang baik serta melayani sesama kita walau sudah lelah.

(3) minta kepada Tuhan agar mengetahui siapa saja yang dapat kita tolong untuk mengenal-Nya. Yang belum mengenal Tuhan jadi kenal dan yang sudah kenal Tuhan menjadi lebih bertumbuh dalam iman. Bagi orang banyak, Tuhan Yesus ingin agar mereka datang serta percaya kepada Dia sebagai Anak Allah dan Juru Selamat yang diutus oleh Bapa. Tetapi bagi para murid-Nya, juga Maria dan Marta, Dia ingin agar mereka percaya lebih dalam. Jadi Tuhan Yesus mencurahkan Diri-Nya kepada sedikit orang, lalu Dia mengirim mereka untuk melakukan hal yang sama kepada orang lain. Itu namanya pemuridan.

Ketika berusia sekitar 20 tahun, Jonathan Edwards menulis sebuah traktat yang berjudul “70 Resolusi untuk Memimpin Hidup”. Resolusi ke-5 menyebutkan: “Aku memutuskan untuk tidak pernah kehilangan satu momen sekalipun tetapi akan meningkatkannya dengan menggunakannya dengan cara paling memungkinkan.” Oleh karena itu, setiap momen dia ingin mengambilnya. Resolusi ke-17: “Aku memutuskan bahwa aku akan hidup sedemikian rupa sehingga kalau aku mati, aku berharap tugasku sudah selesai dan tidak ada hutang.” Seperti apa yang dikatakan dalam resolusi di atas, kiranya kita tidak membuang-buang hidup kita dan takhluk kepada Tuhan serta tujuan-Nya dalam terang kekekalan.

(BA/LW/LK)

Taman Penderitaan

Khotbah: Pdt. Aiter. Bacaan: Markus 14:32-42

Hari ini kita akan melihat tema tentang “Taman Penderitaan.” Ini adalah Getsemani. Tema tentang taman Getsemani sudah dikhotbahkan sepanjang zaman, lalu sekilas kita kira sudah mengerti seluruh ceritanya. Namun, rahasia firman melampaui apa yang kita sudah terima. Ini namanya firman yang hidup. Meski kadang kita sudah lupa, tetapi bertahun-tahun kemudian waktu kena satu masalah, mendadak firman Tuhan yang pernah kita dengar muncul kembali. Roh Tuhan mengingatkan firman yang sudah pernah kita terima. Oleh sebab itu, kita harus terus baca Kitab Suci walaupun tidak langsung mengerti. Roh Kudus akan mengingatkan firman yang pernah kita dengar, bukan sesuatu yang tidak pernah kita ketahui sama sekali. Kita juga akan semakin menemukan koneksi satu bagian dengan bagian lainnya. Maka menjadi orang Kristen, belajar firman Tuhan, itu pasti sangat indah. Kita akan menemukan rahasia yang sangat dalam.

Sebelumnya kita akan melihat latar belakang di dalam Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes yang mencatat peristiwa ini dan memberikan latar belakang yang sangat menarik. Di dalam Matius 26:30-31, ada dua poin penting: 1) Ayat 30, mereka menyanyikan pujian, yang nanti akan muncul di Injil Markus; 2) Ayat 31 (yang tidak ada di bagian Injil lain), “Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai.” Ayat ini mencatat dengan begitu komplit kapan waktunya dan siapa orangnya.

Ada yang menafsirkan di taman Getsemani Yesus takut mati, menghadapi penderitaan di atas kayu salib. Dalam seluruh hidup Tuhan Yesus, betulkah Dia takut menghadapi kematian? Kita harus melihat seluruh konteksnya.

Poin pertama, Yesus mengatakan Ia sangat sedih seperti mau mati rasanya. Dia sangat gentar tetapi kesimpulannya bukan di situ tetapi di kalimat akhir-Nya, jangan kehendak-Ku yang jadi tetapi kehendak-Mu yang jadi. Yesus berkata bahwa: kamu semua akan tergoncang iman karena gembala akan dimatikan. Seharusnya yang goncang iman adalah gembala yang menghadapi maut tetapi Yesus mengatakan bukan gembala melainkan murid-murid yang akan tergoncang iman.

Petrus langsung berkata, “sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau” (ayat 35). Petrus orang yang berani berespon di hadapan Tuhan. Ada orang percaya yang terlalu cepat respon tanpa berpikir panjang. Orang seperti ini kadang ingin cari perhatian tetapi sesungguhnya imannya belum beres. Petrus seolah-olah menjadi orang yang rohani luar biasa di tengah-tengah kesulitan besar, dia langsung menyatakan imannya. Waktu menyatakan imannya. Dia mengira ia adalah murid yang terbaik. Namun Yesus justru langsung berkata bahwa malam ini kamu semua – berarti termasuk Petrus – akan tergoncang. Petrus langsung mengoreksi kalimat Yesus. Petrus berpikir ia memiliki konsep yang benar dan Yesus salah. Yesus melanjutkan dan berkata pada Petrus bahwa “sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Wah kalau begitu lebih baik Petrus tidak usah bicara, jadi malu dia. Yesus adalah pemimpin yang jujur, Dia langsung mengoreksi semua murid-murid yang konsepnya korslet, tidak memakai perumpamaan atau kata kiasan, tetapi to the point.

Pdt. Stephen Tong menegur hamba Tuhan tidak pakai perumpamaan, langsung to the point panggil nama. Kenapa tidak dari hati ke hati, muka dengan muka? Beliau mengatakan, “saya tidak ada waktu lagi menegur orang satu-satu. Waktu saya menegur satu hamba Tuhan, itu identik saya menegur semua hamba Tuhan supaya jangan ulangi lagi kesalahan yang dia lakukan.” Orang yang langsung marah waktu ditegur, langsung mukanya seru, orang ini tidak beres. Contohnya Yudas ditegur, langsung tinggalkan ruangan.Sewaktu Yesus menegur Petrus dengan terus terang Ia berkata: kamu akan tergoncang imanmu termasuk yang lain, dan lebih dari itu kamu akan menyangkal Aku. Petrus ditegur sangat keras. Inilah latar belakang sebelum masuk ke dalam taman Getsemani. Yesus sedang menyatakan gembala akan dimatikan tapi yang goncang iman bukan gembala melainkan murid, berarti Yesus sudah siap mati.

Poin kedua, kita lihat latar belakang dari Markus yang kita mau soroti adalah Mrk.14:26, LAI memberi judul “penetapan perjamuan malam.” Jadi Yesus sudah mengadakan perjamuan, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang” (ayat 24). Lalu sesudah mereka menyanyikan puji-pujian pergilah mereka ke Bukit Zaitun (ayat 26). Yesus tidak mungkin takut mati. Orang yang takut mati menghadapi kematian tidak sambil bernyanyi-nyanyi. Kalaupun menyanyi pasti lagu yang sangat sedih. Yesus waktu menuju kepada kematian dan mengatakan saat-Ku sudah tiba, maka Dia mengarahkan mata dan fokus kepada Yerusalem. Makin dekat harinya, makin dekat jamnya, Alkitab catat Yesus menuju ke sana sambil menyanyi. Yesus menyanyikan lagu apa?

Berdasarkan latar belakang Yahudi, mazmur adalah kitab yang penuh dengan nyanyian. Zaman dulu Mazmur itu adalah nyanyian. Tuhan tidak pernah mewahyukan not lagu tetapi Tuhan mewahyukan lirik lagu. Kitab Mazmur begitu banyak nyanyian ziarah. Nyanyian yang Yesus nyanyikan itu diambil dari Mzm.118:24, “Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorak, bersuka cita karenanya.” Teks lagunya adalah lagu yang tidak merenungkan nasib buruk. Waktu Yesus menyanyi lagu ini mukanya lagi cemberut atau bersuka cita? Yesus waktu menyanyi teks lagu yang girang seperti ini pasti berangkat dengan bersorak-sorak. Yesus mengetahui kematian-Nya bukan kematian yang menyedihkan tetapi merupakan hari yang ditetapkan Tuhan dan inilah hari penggenapannya. Semua murid akan melihat inilah hari yang dinanti-nantikan selama Perjanjian Lama. Semua rasul harus bersuka cita karena mereka akan menyaksikan hari itu tiba. Yesus mempersiapkan hati memasuki penderitaan besar, tetapi disambut dengan suka cita. Yesus memang menyatakan Dia gentar, tetapi kita mesti lihat kalimat akhir Yesus. Kalau saudara melihat biografi seseorang ada sepuluh halaman jangan langsung ambil kalimat pertama di halaman pertama atau kalimat kedua di halaman kedua, tetapi baca sampai akhir. Misalnya biografi seorang pendeta besar: aku seorang pembunuh, pernah mutilasi orang, pernah cerai tiga kali. Saudara langsung mengatakan gila pendeta kok begini. Tetapi ingat masih ada halaman berikutnya, halaman kelima dia mengatakan tetapi.. setelah menerima Tuhan Yesus aku tidak seperti dulu lagi. Yesus berkata “seperti mau mati rasanya” bukan berarti Ia takut mati. Ada yang salah menafsir dengan berkata Yesus bukan Allah karena hal ini. Yesus berkata kamu yang akan tergoncang iman bukan gembala. Waktu mau alami kematian justru gembala sambut dengan nyanyian.

Poin ketiga, kita lihat latar belakang dari Lukas 22:24. Menarik bahwa 4 kitab Injil mencatat latar belakang dari cerita Getsemani. Percakapan waktu perjamuan malam sebelum masuk taman Getsemani ini sudah sisa berapa jam. Terjadilah pertengkaran di antara murid-murid Yesus: Siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka? Yesus berkata raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat, mereka orang-orang yang menjalankan kuasa. Lalu ayat 31 Yesus berkata, “Simon, Simon, lihat Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum.” Jadi sebelum masuk taman Getsemani, terjadilah pertengkaran perebutan posisi siapakah yang terbesar. Bayangkan mereka waktu mengikut Tuhan Yesus. Berkali-kali Yesus mengatakan saatnya belum tiba. Sekarang saat-Ku sudah tiba, langsung mereka pikir satu kalimat, bukan mempersiapkan kematian Tuhan Yesus tetapi nanti kalau guruku meninggal, Ia akan meninggalkan wasiat apa? Kami semua rajin melayani, ikut memberi makan 5000 laki-laki. Sekarang siapakah yang terbesar? Kira-kira di antara rasul siapa yang berani tanya kalimat ini? Siapa yang merasa diri lebih senior pasti yang merasa diri lebih pintar, merasa diri lebih rohani dibandingkan yang lain. Di kalangan 12 rasul, Petrus sombong minta ampun. Yesus berkata Iblis sudah siap menampi engkau. Barangsiapa merasa rohani, lebih baik dari orang lain kalimat yang sama untuk kita: Iblis sedang siap menampi engkau. Namun Yesus melanjutkan satu kalimat: tetapi Aku telah berdoa untuk engkau.

Satu pokok doa yang Yesus bocorkan yaitu mendoakan orang yang sombong rohaninya. Yesus bisa mengucilkan Petrus lalu pilih rasul baru tetapi Yesus tidak kerjakan itu. Yesus mengetahui Petrus sekarang seperti ini karena belum mengerti bahwa seorang gembala harus melihat jemaatnya bukan dengan standar iman sang gembala. Kalau standar iman sang gembala maka semua jemaat sulit luar biasa. Gembala mesti dengan sikap rendah hati seperti seorang ayah menantikan anak bertumbuh, dari anak menjadi orang dewasa. Seorang Bapa memberi kesempatan kepada anak-anaknya, kalau salah dikoreksi, kalau kurang benar diarahkan, didisiplin supaya akhirnya menuju kepada standar yang dia mau. Tetapi sebelum tiba, dia dengan sabar menantikan satu per satu tiba. Kalau sudah tiba maka dia akan bersuka cita.

Pdt. Stephen Tong dalam hatinya ingin semua hamba Tuhan jadi besar, satu per satu dia orbitkan. Selama diorbitkan orang yang mau taat akan jadi, tetapi orang yang tidak mau taat atau jadi sombong sedang ditampi oleh Iblis. Petrus sok rohani tetapi Yesus telah berdoa untuknya. Yesus meluangkan waktu-Nya di dalam doa untuk menyebut nama Simon yang terang-terangan akan menyangkal Dia di hadapan umum. Saudara mau mendoakan musuh yang terang-terangan menyangkal kepribadian Saudara? Yesus mengetahui ada orang yang sudah Ia didik akan menyangkal-Nya di hadapan umum dan ini membuat Yesus sakit luar biasa tetapi Yesus mendoakan Petrus. Kalimat “jikalau engkau insaf” itu bisa setahun, bisa dua tahun, bisa selama-lamanya, tidak gampang katakan kalimat ini. Saudara kalau datang membesuk satu penjahat yang membunuh anak saudara lalu saudara mendoakan dia, doakan apa? Saya doakan “kiranya Allah menjatuhkan api dari langit” atau Saudara bilang “saya mendoakan engkau meskipun kau membunuh anakku tetapi jika engkau insaf jadilah hamba Tuhan yang baik”. Tidak gampang. Yesus berkata jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu. Itulah pesan Yesus sebelum membawa Petrus masuk ke dalam taman Getsemani. Tetapi Petrus merasa “kalau yang lain mau goncang iman, aku tidak. Yesus salah menubuatkan tentang nasibku.” Wah bahaya orang seperti ini, sudah bebal, sudah ditutup matanya oleh setan, tidak lagi bisa melihat fakta hidupnya yang rusak. Banyak orang waktu dengarkan firman bukan mengoreksi dirinya tetapi firman Tuhan itu mantul ke orang lain.

Kalau membaca tulisan Petrus, kita akan menemukan kalimat Tuhan Yesus “jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu” terngiang-ngiang dalam pikiran Petrus. Petrus terus mengingatkan semua orang yang melayani: aku mengingatkan engkau penatua gembalakanlah domba-domba Tuhan. Kenapa Petrus ngomong kalimat itu, karena Yesus pernah menantangnya: Apakah engkau mengasihi-Ku, Simon? Jikalau iya, gembalakanlah domba-domba-Ku. Maka di masa Petrus menulis kitabnya, dia mengerti semua teguran Tuhan Yesus. Petrus sebagai tokoh guru jemaat menguatkan saudara-saudara yang sedang di dalam penderitaan. Berarti doa Tuhan Yesus dikabulkan, tetapi menunggu waktu yang panjang.

Poin keempat, latar belakang dari Injil Yohanes. Perhatikan Yoh. 13:36-38 kita akan melihat ternyata perjamuan malam bukan hanya duduk pecahkan roti minum lalu bubar, salam-salaman. Menurut Injil Yohanes, Yesus mengajarkan semua doktrin penting di situ. Petrus tanya: Tuhan, kemanakah Engkau pergi? Di Yoh.14 Yesus mengajarkan: jangan gelisah hatimu. Yesus menjanjikan Penghibur, itu tentang Roh Kudus (Yoh.14:15). Nanti Yesus memberikan pengajaran: Akulah pokok anggur yang benar (Yoh.15) dan supaya kita saling mengasihi (Yoh.15:9). Lalu Ia menubuatkan bagaimana dunia membenci murid-murid-Nya (Yoh.15:8). Ini semua terjadi di malam terakhir. Di Yoh.16:4b Yesus bicara tentang pekerjaan Penghibur dan di Yoh.17 adalah doa Yesus yang sangat panjang, Ia berdoa untuk murid-muridnya. Setelah Yesus mengatakan semuanya itu keluarlah ia dari situ bersama dengan murid-murid-Nya dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron (Yoh.18), Ia masuk ke taman bersama murid-murid-Nya.

Jadi sebelum masuk ke taman, Yesus sudah mendoakan murid-murid-Nya. Yesus tahu dunia akan membenci semua murid tetapi sebelum itu membenci Yesus terlebih dahulu. Yesus mengajarkan doktrin Roh Kudus yang sangat penting di hari terakhir itu. Kita harus memahami doktrin Kristologi terlebih dulu baru mengerti doktrin Roh Kudus. Untuk mengerti Allah Tritunggal ada tahapnya. Pertama dalami dahulu seluruh Kitab Suci yang bicara tentang Yesus. Setelah belajar siapa Yesus, kita akan mengetahui siapakah Bapa karena Yesus berkata: barangsiapa lihat Aku, dia lihat Bapa. Pintu utama adalah Yesus. Setelah mengerti Yesus, Ia berkata: Aku akan mengirim Roh Penghibur. Kalau doktrin Kristologi tidak beres, bicara doktrin apapun tidak beres. Yesus membocorkan tentang nanti, kalau Dia pergi Roh Kudus akan dikirim. Berarti Yesus sudah mempersiapkan Diri-Nya pasti diterima karena nanti Yesus mati, bangkit dan naik ke surga. Waktu naik ke surga dalam kondisi menang, baru Roh Kudus turun.

Yesus sudah menubuatkan semuanya berarti waktu menghadapi taman Getsemani, taman penderitaan, Yesus sudah mempersiapkan hati. Aku pasti lulus, Aku pasti melewati itu. Di dalam kondisi seperti ini Yesus keluarkan satu rahasia: roh penurut dan daging lemah. Saya percaya itulah yang terjadi di taman Getsemani. Yesus bukan hanya bicara kepada para murid, ini bicara peperangan rohani yang terjadi di dalam diri semua manusia: antara roh yang penurut atau roh yang melawan atau daging yang penurut atau daging yang melawan? Saudara melihat secara roh Yesus mempersiapkan diri-Nya. Dia tahu Dia harus dimatikan tetapi secara kelemahan daging manusia, manusia menghindari kesakitan dan itu pergumulan yang luar biasa susah. Paulus mengatakan aku melatih tubuhku. Secara doktrin dia beres tetapi untuk tubuh ini sulit. Setiap kali mau melakukan yang baik ternyata yang dilakukan jahat. Ini keinginan daging.

Banyak orang tahu melayani itu baik tetapi waktu melayani kenapa tidak jadi-jadi karena urusan daging tidak beres. Kalau melayani Tuhan harus komitmen bayar harga. Petrus kenapa gagal karena daging tidak bisa dikuasai. “Masa engkau tidak bisa bertahan satu jam saja?” kata Yesus. Saya berdoa pada Tuhan agar jangan sampai suatu saat saya dengar khotbah saya tertidur karena di dalam Kitab Suci pernah muncul dua kasus: 1) Yesus dimuliakan di atas gunung, Ia mengajak Petrus, Yakobus, Yohanes dan mereka tidur. Mereka kelolosan satu berita penting yaitu tentang kematian Tuhan Yesus (lihat Luk.9:28). Pada saat tema khotbah kematian Tuhan Yesus dibicarakan dengan utusan Musa (wakil Taurat) dan Elia (wakil Nabi), Alkitab catat mereka tertidur. Mereka lolos pembicaraan tentang tujuan kepergian yang akan digenapi di Yerusalem. 2) Detik-detik akhir Yesus akan ditangkap, Yesus membawa lagi tiga murid inti ini masuk ke taman Getsemani dan tiga-tiganya tidur lagi. Di situlah Yesus keluarkan satu tema: roh penurut daging lemah. Tema ini menjadi pergumulan dari semua orang yang melayani Yesus.

Di taman Getsemani saya percaya Yesus bergumul poin ini juga, maka dia berkata jangan kehendak-Ku yang jadi tapi kehendak-Mu yang jadi. Yesus mengalahkan keinginan daging. Secara daging manusia akan hindarkan api yang panas, kena duri langsung melarikan diri. Waktu mereka tidur tidak lihat pemandangan hari itu yang sangat indah bagaimana sikap Yesus berdoa. Alkitab mencatat Yesus merebahkan Diri, kemungkinan telungkup. Satu sikap doa yang unik yang tidak pernah ada. Yesus keluarkan semua isi hati-Nya yang paling dalam yaitu kegentaran-Nya sampai peluh yang keluar itu bercampur dengan darah. Itu bicara daging. Setelah Yesus berkata kepada murid yang tidur sampai tiga kali sekarang Dia berkata: saat-Ku sudah tiba, berarti Yesus selesai mengalahkan semua, sekarang Ia siap diadili.

Saudara-saudara barangsiapa melayani Tuhan masih sampai kepada level roh penurut tetapi daging belum bisa dikalahkan orang itu belum bisa melayani Tuhan dengan maksimal. Apalagi rohnya tidak pernah menurut. Kita mesti ingat roh ini penurut. Daging lemah ini harus ditaklukkan. Barangsiapa menaklukkan semua ini dia akan menuju kepada satu penderitaan yang sesuai kehendak Tuhan. Tuhan mempersiapkan semua penderitaan. Alkitab sudah mengatakan dunia akan membenci kamu. Yesus berkata kepada Petrus bahwa kelak kamu akan ditangkap ke tempat yang kamu tidak mau pergi. Petrus nanti tidak larikan diri karena roh taat, daging taat kepada kehendak Tuhan. Barangsiapa melayani Tuhan harus melayani sampai tuntas. Masihkah saudara melayani Tuhan lalu akhirnya undur? Bertobatlah mulai hari ini. Saudara mesti menggenapkan taman Getsemani yang harus dilewati setiap manusia. Setiap orang punya taman Getsemaninya. Saudara mesti taklukkan lalu dengan suara keras berkata: kehendak-Mu yang jadi. Bangkit berdiri menghadapi kesulitan, itu baru gereja ada hari depan. Gereja Tuhan perlu orang yang jiwanya berkorban untuk Tuhan maka gereja akan bertumbuh. Amin. (VD)

PA Khusus 10 Hari – Ibadah

Pdt. Aiter PA KHUSUS IBADAH #1 ADAM - NUH (Minggu, 12 Apr 2020)
PA Khusus Ibadah GRII Citra Raya - Surabaya
PA dimulai pada 4:50.
Bagi yang mau kasih persembahan bisa melalui BCA A/C: 010 5756 700 a.n. Gereja Reformed Injili Indonesia dengan kode "IBADAH 1".
Kunjungi Website Kami di https://griicitra.org/