Jangan Menyia-nyiakan Tahun Ini

Khotbah: Vik. Bakti Anugrah. Bacaan: Yohanes 11:1-16; 25-27.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melakukan pemborosan, misalnya: tidak mematikan kran sehingga air terbuang percuma; memakai tisu terlalu banyak; lupa mematikan AC sehingga terus menyala saat tidak ada orang; memesan makanan berlebihan sehingga kekenyangan lalu membuangnya sia-sia, dsb. Selain pemborosan energi dan materi, tanpa sadar kita juga memboroskan waktu, kesempatan dan anugerah Tuhan. Kita sia-siakan hidup bertujuan yang telah Tuhan ciptakan bagi kita.

Ide dan kerangka khotbah ini diperoleh dari seorang hamba Tuhan yang bernama Steven Cole. Dia bertanya, “Bagaimana jika kita masing-masing memiliki uang 1.440 dolar AS per hari yang harus dihabiskan pada hari itu juga?” Kira-kira uang 1.440 dolar AS (= 20,5 juta rupiah) itu akan kita habiskan untuk apa? Jika 1.440 dolar itu diganti menjadi 1.440 menit (= 24 jam x 60 menit), maka 1.440 menit itu akan kita gunakan untuk apa setiap hari? Jika diasumsikan 1 hari (= 24 jam) yang dibagi 8 jam untuk tidur, 8 jam untuk aktivitas sehari-hari (seperti: makan, mandi, bekerja, pulang pergi, dsb) maka masih ada sisa sepertiganya yaitu 8 jam. Berarti dalam 1 tahun (= 365 hari), kita memiliki 365 x 8 jam = 2.920 jam untuk kita hidupi. Sekarang pertanyaannya: bagaimana kita menggunakan waktu yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita?

Sebuah ungkapan dari C.T. Studd berbunyi: “Only one life, ‘twill soon be past. Only what’s done for Christ will last” memiliki arti: “Hidup hanya satu kali, akan segera berlalu. Hanya apa yang dilakukan bagi Kristus akan tinggal tetap.” Memang hidup manusia itu hanya 1 kali dan tidak ada reinkarnasi. Hanya yang dilakukan bagi Kristuslah yang bertahan, semua yang lain tidak akan bertahan. Namun ungkapan tersebut tidak bisa dipahami seolah-olah semua yang kita lakukan haruslah merupakan hal-hal yang rohani karena kita masih harus menjalani kehidupan ini dengan membayar tagihan listrik, mencicil rumah, memotong rumput, merawat mobil, dsb. Tentu saja, kita butuh waktu untuk melakukan hal-hal semacam itu. Tetapi setelah semuanya itu selesai, apakah kita menggunakan waktu yang ada untuk memajukan Kerajaan Tuhan dan melakukan kehendak-Nya, seperti dalam kalimat Doa Bapa Kami yang berbunyi: “Datanglah Kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu (Mat. 6:10)”?

Kristus telah memberi Diri-Nya disalibkan untuk menebus kita dari dunia yang jahat, maka merupakan suatu tragedi jikalau hidup kita dibuang sia-sia. Tuhan Yesus merupakan contoh teragung bagi kita tentang bagaimana menggunakan hidup secara produktif bagi Allah. Uniknya Tuhan Yesus baru memulai pelayanan pada usia 30 tahun dan hanya dalam waktu yang pendek yaitu 3 tahun: (a) Dia melakukan pelayanan bersama sekelompok orang yang paling tidak mungkin Tuhan tetapi mereka dipakai-Nya untuk mengubah sejarah di mana dari ke-12 orang murid-Nya itu terdapat 1 orang pengkhianat (Yudas), 1 orang penyangkal (Petrus), 9 orang pengecut dan hanya 1 orang yang tertinggal (Yohanes). (b) Dia selalu memiliki waktu bagi orang-orang yang datang kepada-Nya. Contoh: ketika akan minum dan makan siang, Yesus masih sempat bercakap-cakap dengan perempuan Samaria di tengah panas terik; Dia juga memiliki waktu untuk bertemu dengan pengemis buta, orang gila yang kerasukan setan, dan masih banyak lagi. (c) Dia selalu memiliki waktu untuk mengerjakan segala sesuatu tepat pada waktunya. Dalam Injil Yohanes berulang kali ditulis: “saatnya telah tiba” (Yoh. 4:23; Yoh. 5:25; Yoh. 12:23; Yoh. 17:1). Jadi: “selalu ada waktunya.” Itu disebabkan karena inti dari segala sesuatu yang dilakukan Tuhan Yesus adalah Dia memiliki persekutuan yang erat dengan Bapa-Nya dan kehendak-Nya sepenuhnya ditaklukkan kepada Bapa. Kita juga harus melakukan latihan rohani ini bertahun-tahun di mana kita berkomunikasi dengan Tuhan, lalu menundukkan kehendak kita sepenuhnya kepada-Nya. (d) Dia tidak pernah terburu-buru karena memiliki “sense of timing” yang tepat. Seperti dalam kisah Yoh. 11:1-44 ini dimana Tuhan Yesus pergi ke Betania untuk membangkitkan Lazarus setelah ia mati, bukan menyembuhkannya sebelum mati. Cole berkata, “Kita hanya bisa menggunakan waktu dengan tepat jika kita hidup dalam ketundukan pada rencana Allah dan hidup dalam terang-Nya yang kekal,” jadi bukanlah memandang pada dunia yang sementara ini.

Dengan hidup yang tunduk pada rencana Allah dalam terang kekekalan, kita akan fokus dan tenang untuk mengerjakan segala sesuatu dengan tepat. Tuhan Yesus menggunakan waktu dengan tepat sehingga hidup-Nya efektif. Ketika datang utusan yang membawa berita bahwa sahabat-Nya yaitu Lazarus (saudara Maria dan Marta) sedang sakit, Dia malah sengaja mengambil keputusan untuk tinggal 2 hari lagi. Ada 2 pendapat mengenai saat kematian Lazarus: (1) Lazarus sudah mati saat utusan itu datang. (2) D. A. Carson mengatakan bahwa Lazarus masih hidup saat utusan itu datang. Dia baru mati ketika Yesus berkata, “Lazarus sudah mati.” (Yoh. 11:14). Jadi setelah Yesus sengaja tinggal 2 hari lagi di tempat-Nya berada, barulah Lazarus mati. Namun apapun pendapatnya, yang pasti Lazarus sudah mati dan tubuhnya telah membusuk ketika Yesus tiba di Betania 4 hari kemudian. Lalu Dia memanggil Lazarus keluar dari kuburnya. Demonstrasi tersebut menyatakan bahwa: (1) kuasa-Nya supranatural. (2) Yesus adalah Kebangkitan dan Hidup. Siapapun yang percaya kepada-Nya tidak akan mati selama-lamanya (Yoh. 11:25-26). Jadi Yesus sengaja menggunakan kematian Lazarus ini untuk menyatakan kedua hal tersebut. Dari sini, kita dapat belajar bagaimana Tuhan Yesus mengambil keputusan, di mana:

A. KEPUTUSANNYA TIDAK BERGANTUNG pada:

(1) Tekanan dari teman-teman-Nya. Jikalau belum waktunya Dia tidak akan datang. Padahal Yesus bisa: (a) segera berangkat ke Betania dan meninggalkan apa yang dilakukan-Nya di seberang Sungai Yordan. (b) mengirimkan kuasa-Nya untuk menyembuhkan Lazarus dari jarak jauh jika tidak berangkat ke Betania, seperti yang dilakukan-Nya ketika menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum (Mat. 8:5-13). Tetapi Yesus tidak melakukan kedua hal tersebut. Ini bukan berarti lalu kita abaikan saja nasihat dari teman-teman seiman. Tuhan kadang memberi orang-orang Kristen yang baik untuk memberikan nasihat agar kita tidak melakukan kesalahan karena kita buta dan tidak tahu. Tetapi, melakukan kehendak Tuhan harus menjadi keputusan kita yang paling utama. Nasihat teman-teman yang baik bisa mengarahkan kita tetapi jangan menurut jika makin menjauhkan kita dari kehendak-Nya.

(2) Emosi sesaat. Tuhan Yesus tidak membiarkan perasaan-Nya terhadap teman-teman-Nya membuat Dia panik. Dia tidak izinkan emosi-Nya menguasai Diri-Nya walaupun (a) Maria, Marta, dan Lazarus merupakan sahabat Yesus. Dia dekat dengan mereka. Terlihat dari pesan yang disampaikan kepada Yesus berbunyi demikian tentang Lazarus: “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” (b) Maria pernah melakukan perbuatan berkesan yang menunjukkan betapa ia menghormati dan menyembah Tuhan Yesus di mana kaki Yesus diurapinya dengan minyak narwastu yang mahal, yang konon dipakai untuk pernikahan yang hanya sekali saja. Lalu ia menyeka kaki Yesus dengan rambutnya (Yoh. 11:2). Ini dilakukan Maria untuk mengingat kematian atau penguburan Yesus (Yoh. 12:7).

(3) Ancaman para musuh-Nya. Waktu itu, Yesus sedang berada di sebelah timur Sungai Yordan untuk menghindar dari para pemimpin Yahudi yang berusaha menangkap dan membunuh-Nya (Yoh. 10:39-40). Ketika diberitahu bahwa Lazarus sedang sakit di Betania, Dia malah berkata, “Mari kita kembali lagi ke Yudea.” (Yoh. 11:7). Para murid-Nya berespons dengan berkata, “Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?” (Yoh. 11:8). Mereka berpikir jika Yesus kembali ke Yudea dan mereka mengikuti Dia itu sama saja ‘cari mati.’ Tetapi Tuhan Yesus tidak memutuskan hendak pergi ke mana berdasarkan ancaman dari para musuh-Nya.

Jadi Dia memiliki alasan untuk pergi dan tidak pergi. Alasan pergi segera karena tekanan teman dan emosi sesaat; sedangkan alasan tidak pergi adalah karena ada musuh di situ. Tuhan Yesus tidak mengambil keputusan berdasarkan dua hal tersebut. Rasul Paulus juga demikian dalam mengambil keputusan. Ia tetap pergi ke Yerusalem walau nabi Agabus telah memberitahunya dan orang-orang menahannya agar tidak pergi karena dia akan diikat (Kis. 21:11-14). Tetapi Rasul Paulus menjawab, “Aku ini rela bukan hanya untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem karena nama Tuhan Yesus.” Jadi sebagai hamba Tuhan, dia tahu bahwa dia harus melakukan kehendak Tuhan tanpa perlu takut terhadap para musuhnya. Namun di sisi lain kadang perlu juga untuk “melarikan diri.” Rasul Paulus pernah melakukannya dibantu para rekannya (Kis 9:23-25, 29-30). Memang benar kita jangan ‘cari penyakit,’ tetapi benar juga: “lebih aman bersama dengan Tuhan Yesus di tempat berbahaya daripada tidak bersama Dia di tempat yang kelihatannya aman.” Jika kita dipanggil untuk melakukan sesuatu, kita tidak boleh menghindar dengan alasan diancam, seperti Nehemia yang tidak mau diintimidasi oleh ancaman dari Sanbalat, Tobia dan Gesyem (Neh. 6).

B. KEPUTUSANNYA BERDASARKAN pada:

(1) Apa yang akan memuliakan Tuhan. Yoh 11:4 Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.” Ini berarti: (a) Yesus tahu betul akan masa depan, khususnya masa depan Lazarus di mana Tuhan akan membangkitkannya dari kematian. Kebangkitan Lazarus tentu akan menyingkirkan kesedihan Maria dan Marta. Tetapi lebih dari itu, dengan cara yang luar biasa dan berkuasa, kebangkitan-Nya menyatakan bahwa “Yesus adalah kebangkitan dan hidup” (Yoh. 11:25). (b) Yesus memiliki level yang sama dengan Tuhan karena Dia mengklaim akan berbagian dalam kemuliaan Allah. Sepertinya terdengar arogan dan menghujat, tetapi Dia tetap mengatakannya karena Dia adalah Allah itu sendiri. Sebab tidak mungkin, Allah yang menyatakan Diri-Nya sebagai Allah yang cemburu (Kel. 20:5) mau berbagi kemuliaan dengan manusia manapun. Kalau Yesus bisa mengatakan: “Anak Manusia akan dimuliakan”, itu sama saja dengan menyatakan bahwa “Dia adalah Tuhan.” Maka seperti Tuhan Yesus, kemuliaan Tuhan harus merupakan prioritas dalam hidup kita, bahkan di atas kenyamanan dan kelepasan kita dari pencobaan. Oleh karena itu, apa yang paling memuliakan Tuhan harus kita kejar sebagai keputusan dalam hidup kita.

(2) Bagaimana Dia berjalan di dalam terang untuk melakukan tujuan/kehendak Tuhan. Yoh. 11:9-10 Jawab Yesus: “Bukankah ada 12 jam dalam 1 hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini. Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya.” Jawaban Yesus atas perkataan para murid-Nya di ayat 8 mengandung 2 makna: (a) Yesus mengacu pada 12 jam dalam siang hari yaitu waktu di mana seseorang masih dapat bekerja. Jika malam datang maka tidak ada seorang pun yang dapat bekerja (Yoh. 9:4). Orang Yahudi membagi hari menjadi 2 bagian yaitu: (i) malam: pk. 18.00 s/d pk. 6.00. (ii) siang: pk. 6.00 s/d pk. 18.00. Masing-masing terdiri dari 12 jam. Di sini, Tuhan telah menetapkan sejumlah waktu yaitu 12 jam pada siang hari bagi Diri-Nya dan kita untuk bekerja. Selama waktu-Nya belum selesai Dia tahu meskipun Dia pergi ke Yudea, tidak akan ada yang membunuh-Nya. Kita pun demikian. Tetapi jika waktu kita sudah habis maka kita sudah tidak memiliki kesempatan untuk melayani/bekerja lagi. (b) selama Yesus ada di dalam dunia, Dia adalah Terang Dunia. Tuhan dengan sengaja mengambil keputusan melakukan pelayanan itu ke Yudea karena waktu-Nya masih ada. Kita pun harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya selama Terang itu ada. Gunakan kesempatan yang diberikan Tuhan untuk melayani-Nya sebisa mungkin selama kita masih bisa. (c) bersama dengan Yesus artinya kita berada dalam Terang. Jaman dahulu belum ada lampu seperti sekarang, maka situasi malam itu benar-benar gelap. Jika kita berada di luar Dia, maka kita sama dengan berada dalam kegelapan dan gampang tersandung. Tetapi jika kita berada di dalam Dia yang adalah Terang, maka kita bisa berjalan. Oleh karena itu, pergi bersama Yesus sekalipun ke tempat berbahaya, itu lebih baik daripada pergi ke tempat yang kelihatan aman tanpa Dia. Seperti Tomas yang telah memilih hal yang benar dengan berkata, “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia (Yoh. 11:16).” Di sini terlihat 1 karakter Tomas yang baik walau terkesan pesimis di mana ia lebih baik mati bersama Yesus daripada hidup tanpa Dia.

(3) Untuk menolong orang lain agar imannya bertumbuh, yaitu:
(a) Para murid-Nya. Mereka pasti sudah percaya kepada-Nya, tetapi iman mereka masih perlu bertumbuh. Maka Tuhan Yesus sengaja mengatakan kalimat yang sangat mencengangkan yaitu: “Lazarus sudah mati, tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.” (Yoh 11:14b-15). Tuhan Yesus tidak membezuk Lazarus ketika sedang sakit tetapi baru datang setelah Lazarus mati, bahkan Dia bersyukur tidak hadir pada waktu itu. Tuhan Yesus bukannya senang dengan kematian Lazarus tetapi senang karena inilah situasi yang akan menghasilkan iman yang lebih besar bagi para murid.

(b) Marta yang sedang berduka. Yoh. 11:25-26 Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati; dari setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.” D. A. Carson mengatakan bahwa kepedulian Yesus bertujuan mengubah fokus Marta dari kepercayaan abstrak yang tidak jelas mengenai kebangkitan pada kedatangan-Nya kembali di akhir zaman menjadi kepercayaan pribadi Marta di mana ia mengalaminya sendiri karena Yesus membuktikannya sekarang. Jadi jika kita percaya kepada Kristus maka kita memiliki hidup kekal di sini dan sekarang. Meski mati secara fisik, kita akan hidup bersama-Nya secara rohani tanpa ada gangguan. Maka Tuhan Yesus dengan terus terang bertanya kepada Marta, “Percayakah engkau akan hal ini?” (Yoh. 11:26). Yesus ingin Marta dan juga kita percaya kepada-Nya.

(c) Orang banyak: Di kubur Lazarus, Tuhan Yesus sengaja berdoa keras sekali: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku (Yoh. 11:41-42).” Jadi Yesus ingin agar orang banyak percaya bahwa Allah Bapa mengutus-Nya, di mana Dia bukan hanya membawa orang pada iman yang menyelamatkan, tetapi juga menguatkan iman mereka yang sudah percaya. Hidup-Nya bernilai karena merupakan hidup yang tunduk pada rencana Allah dalam terang kekekalan.

Hidup kita juga dapat bernilai di hadapan Tuhan ketika tunduk pada kehendak Allah, yaitu:
(1) beralih dari menggunakan hidup secara sia-sia menjadi menggunakannya agar bernilai kekal. Rasul Paulus berkata, “… demi kemurahan Allah, aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan (korban) yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Rm. 12:1). Mempersembahkan diri itu seperti korban yang diikat di mezbah persembahan. Masalahnya, kita ini merupakan korban yang hidup, bukan korban mati yang hanya diam saja ketika ditaruh dan dibakar; kita selalu bisa merangkak turun dari mezbah jika tidak mau taat kepada Tuhan! Maka komitmen mempersembahkan diri itu bukan hanya 1 kali untuk selamanya, tetapi harus terus-menerus diulang. Bukannya tunduk kepada Allah, pemimpin Yahudi justru ingin membunuh Yesus dan Lazarus karena banyak orang Yahudi yang meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus (Yoh. 12:10-11). Bodoh sekali jika mereka ingin membunuh Yesus yang tidak bisa mati. Dia berkuasa atas kematian. Tahukah Saudara akan semacam lilin ulang tahun yang ditiup berapa kali pun tetap akan menyala lagi? Walaupun mereka membunuh Yesus kubur tidak akan sanggup menahan-Nya.

(2) Berjalan dekat dengan Tuhan. Seperti Tuhan Yesus yang berjalan dekat dengan Bapa-Nya dengan selalu ‘stem nada-Nya’ agar sama dengan Allah Bapa.

(3) Berdoa. Tuhan Yesus bisa mencapai begitu banyak pelayanan dalam waktu sempit (3 tahun) karena Dia tahu dengan jelas apa yang harus dilakukan-Nya. Setiap hari sebelum melakukan sesuatu, Dia selalu berdoa. Contoh: Yesus berdoa sebelum memilih para rasul, sebelum naik ke atas kayu salib, sebelum melakukan pelayanan kepada ribuan orang, dll. Banyak hal besar terjadi setelah Dia berdoa. Maka kita harus selalu berdoa.

Untuk mengenal kehendak Tuhan, kita perlu:
(1) mencari terlebih dahulu Kerajaan Allah dan Kebenaran-Nya (Mat 6:33). Ini merupakan satu tujuan yang betul-betul membutuhkan stem terus menerus agar nada sama dengan Allah.

(2) mengasihi Tuhan dan sesama. Tuhan betul-betul telah melakukan kedua hal ini. Kita pun harus demikian. Kasih kepada sesama itu bisa dimulai dari rumah yaitu orang-orang terdekat di sekitar kita seperti pasangan, anak-anak, dst. Kita mulai belajar mengasihi dengan berbicara memakai kata-kata yang baik serta melayani sesama kita walau sudah lelah.

(3) minta kepada Tuhan agar mengetahui siapa saja yang dapat kita tolong untuk mengenal-Nya. Yang belum mengenal Tuhan jadi kenal dan yang sudah kenal Tuhan menjadi lebih bertumbuh dalam iman. Bagi orang banyak, Tuhan Yesus ingin agar mereka datang serta percaya kepada Dia sebagai Anak Allah dan Juru Selamat yang diutus oleh Bapa. Tetapi bagi para murid-Nya, juga Maria dan Marta, Dia ingin agar mereka percaya lebih dalam. Jadi Tuhan Yesus mencurahkan Diri-Nya kepada sedikit orang, lalu Dia mengirim mereka untuk melakukan hal yang sama kepada orang lain. Itu namanya pemuridan.

Ketika berusia sekitar 20 tahun, Jonathan Edwards menulis sebuah traktat yang berjudul “70 Resolusi untuk Memimpin Hidup”. Resolusi ke-5 menyebutkan: “Aku memutuskan untuk tidak pernah kehilangan satu momen sekalipun tetapi akan meningkatkannya dengan menggunakannya dengan cara paling memungkinkan.” Oleh karena itu, setiap momen dia ingin mengambilnya. Resolusi ke-17: “Aku memutuskan bahwa aku akan hidup sedemikian rupa sehingga kalau aku mati, aku berharap tugasku sudah selesai dan tidak ada hutang.” Seperti apa yang dikatakan dalam resolusi di atas, kiranya kita tidak membuang-buang hidup kita dan takhluk kepada Tuhan serta tujuan-Nya dalam terang kekekalan.

(BA/LW/LK)