Taman Penderitaan
Khotbah: Pdt. Aiter. Bacaan: Markus 14:32-42
Hari ini kita akan melihat tema tentang “Taman Penderitaan.” Ini adalah Getsemani. Tema tentang taman Getsemani sudah dikhotbahkan sepanjang zaman, lalu sekilas kita kira sudah mengerti seluruh ceritanya. Namun, rahasia firman melampaui apa yang kita sudah terima. Ini namanya firman yang hidup. Meski kadang kita sudah lupa, tetapi bertahun-tahun kemudian waktu kena satu masalah, mendadak firman Tuhan yang pernah kita dengar muncul kembali. Roh Tuhan mengingatkan firman yang sudah pernah kita terima. Oleh sebab itu, kita harus terus baca Kitab Suci walaupun tidak langsung mengerti. Roh Kudus akan mengingatkan firman yang pernah kita dengar, bukan sesuatu yang tidak pernah kita ketahui sama sekali. Kita juga akan semakin menemukan koneksi satu bagian dengan bagian lainnya. Maka menjadi orang Kristen, belajar firman Tuhan, itu pasti sangat indah. Kita akan menemukan rahasia yang sangat dalam.
Sebelumnya kita akan melihat latar belakang di dalam Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes yang mencatat peristiwa ini dan memberikan latar belakang yang sangat menarik. Di dalam Matius 26:30-31, ada dua poin penting: 1) Ayat 30, mereka menyanyikan pujian, yang nanti akan muncul di Injil Markus; 2) Ayat 31 (yang tidak ada di bagian Injil lain), “Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai.” Ayat ini mencatat dengan begitu komplit kapan waktunya dan siapa orangnya.
Ada yang menafsirkan di taman Getsemani Yesus takut mati, menghadapi penderitaan di atas kayu salib. Dalam seluruh hidup Tuhan Yesus, betulkah Dia takut menghadapi kematian? Kita harus melihat seluruh konteksnya.
Poin pertama, Yesus mengatakan Ia sangat sedih seperti mau mati rasanya. Dia sangat gentar tetapi kesimpulannya bukan di situ tetapi di kalimat akhir-Nya, jangan kehendak-Ku yang jadi tetapi kehendak-Mu yang jadi. Yesus berkata bahwa: kamu semua akan tergoncang iman karena gembala akan dimatikan. Seharusnya yang goncang iman adalah gembala yang menghadapi maut tetapi Yesus mengatakan bukan gembala melainkan murid-murid yang akan tergoncang iman.
Petrus langsung berkata, “sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau” (ayat 35). Petrus orang yang berani berespon di hadapan Tuhan. Ada orang percaya yang terlalu cepat respon tanpa berpikir panjang. Orang seperti ini kadang ingin cari perhatian tetapi sesungguhnya imannya belum beres. Petrus seolah-olah menjadi orang yang rohani luar biasa di tengah-tengah kesulitan besar, dia langsung menyatakan imannya. Waktu menyatakan imannya. Dia mengira ia adalah murid yang terbaik. Namun Yesus justru langsung berkata bahwa malam ini kamu semua – berarti termasuk Petrus – akan tergoncang. Petrus langsung mengoreksi kalimat Yesus. Petrus berpikir ia memiliki konsep yang benar dan Yesus salah. Yesus melanjutkan dan berkata pada Petrus bahwa “sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Wah kalau begitu lebih baik Petrus tidak usah bicara, jadi malu dia. Yesus adalah pemimpin yang jujur, Dia langsung mengoreksi semua murid-murid yang konsepnya korslet, tidak memakai perumpamaan atau kata kiasan, tetapi to the point.
Pdt. Stephen Tong menegur hamba Tuhan tidak pakai perumpamaan, langsung to the point panggil nama. Kenapa tidak dari hati ke hati, muka dengan muka? Beliau mengatakan, “saya tidak ada waktu lagi menegur orang satu-satu. Waktu saya menegur satu hamba Tuhan, itu identik saya menegur semua hamba Tuhan supaya jangan ulangi lagi kesalahan yang dia lakukan.” Orang yang langsung marah waktu ditegur, langsung mukanya seru, orang ini tidak beres. Contohnya Yudas ditegur, langsung tinggalkan ruangan.Sewaktu Yesus menegur Petrus dengan terus terang Ia berkata: kamu akan tergoncang imanmu termasuk yang lain, dan lebih dari itu kamu akan menyangkal Aku. Petrus ditegur sangat keras. Inilah latar belakang sebelum masuk ke dalam taman Getsemani. Yesus sedang menyatakan gembala akan dimatikan tapi yang goncang iman bukan gembala melainkan murid, berarti Yesus sudah siap mati.
Poin kedua, kita lihat latar belakang dari Markus yang kita mau soroti adalah Mrk.14:26, LAI memberi judul “penetapan perjamuan malam.” Jadi Yesus sudah mengadakan perjamuan, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang” (ayat 24). Lalu sesudah mereka menyanyikan puji-pujian pergilah mereka ke Bukit Zaitun (ayat 26). Yesus tidak mungkin takut mati. Orang yang takut mati menghadapi kematian tidak sambil bernyanyi-nyanyi. Kalaupun menyanyi pasti lagu yang sangat sedih. Yesus waktu menuju kepada kematian dan mengatakan saat-Ku sudah tiba, maka Dia mengarahkan mata dan fokus kepada Yerusalem. Makin dekat harinya, makin dekat jamnya, Alkitab catat Yesus menuju ke sana sambil menyanyi. Yesus menyanyikan lagu apa?
Berdasarkan latar belakang Yahudi, mazmur adalah kitab yang penuh dengan nyanyian. Zaman dulu Mazmur itu adalah nyanyian. Tuhan tidak pernah mewahyukan not lagu tetapi Tuhan mewahyukan lirik lagu. Kitab Mazmur begitu banyak nyanyian ziarah. Nyanyian yang Yesus nyanyikan itu diambil dari Mzm.118:24, “Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorak, bersuka cita karenanya.” Teks lagunya adalah lagu yang tidak merenungkan nasib buruk. Waktu Yesus menyanyi lagu ini mukanya lagi cemberut atau bersuka cita? Yesus waktu menyanyi teks lagu yang girang seperti ini pasti berangkat dengan bersorak-sorak. Yesus mengetahui kematian-Nya bukan kematian yang menyedihkan tetapi merupakan hari yang ditetapkan Tuhan dan inilah hari penggenapannya. Semua murid akan melihat inilah hari yang dinanti-nantikan selama Perjanjian Lama. Semua rasul harus bersuka cita karena mereka akan menyaksikan hari itu tiba. Yesus mempersiapkan hati memasuki penderitaan besar, tetapi disambut dengan suka cita. Yesus memang menyatakan Dia gentar, tetapi kita mesti lihat kalimat akhir Yesus. Kalau saudara melihat biografi seseorang ada sepuluh halaman jangan langsung ambil kalimat pertama di halaman pertama atau kalimat kedua di halaman kedua, tetapi baca sampai akhir. Misalnya biografi seorang pendeta besar: aku seorang pembunuh, pernah mutilasi orang, pernah cerai tiga kali. Saudara langsung mengatakan gila pendeta kok begini. Tetapi ingat masih ada halaman berikutnya, halaman kelima dia mengatakan tetapi.. setelah menerima Tuhan Yesus aku tidak seperti dulu lagi. Yesus berkata “seperti mau mati rasanya” bukan berarti Ia takut mati. Ada yang salah menafsir dengan berkata Yesus bukan Allah karena hal ini. Yesus berkata kamu yang akan tergoncang iman bukan gembala. Waktu mau alami kematian justru gembala sambut dengan nyanyian.
Poin ketiga, kita lihat latar belakang dari Lukas 22:24. Menarik bahwa 4 kitab Injil mencatat latar belakang dari cerita Getsemani. Percakapan waktu perjamuan malam sebelum masuk taman Getsemani ini sudah sisa berapa jam. Terjadilah pertengkaran di antara murid-murid Yesus: Siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka? Yesus berkata raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat, mereka orang-orang yang menjalankan kuasa. Lalu ayat 31 Yesus berkata, “Simon, Simon, lihat Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum.” Jadi sebelum masuk taman Getsemani, terjadilah pertengkaran perebutan posisi siapakah yang terbesar. Bayangkan mereka waktu mengikut Tuhan Yesus. Berkali-kali Yesus mengatakan saatnya belum tiba. Sekarang saat-Ku sudah tiba, langsung mereka pikir satu kalimat, bukan mempersiapkan kematian Tuhan Yesus tetapi nanti kalau guruku meninggal, Ia akan meninggalkan wasiat apa? Kami semua rajin melayani, ikut memberi makan 5000 laki-laki. Sekarang siapakah yang terbesar? Kira-kira di antara rasul siapa yang berani tanya kalimat ini? Siapa yang merasa diri lebih senior pasti yang merasa diri lebih pintar, merasa diri lebih rohani dibandingkan yang lain. Di kalangan 12 rasul, Petrus sombong minta ampun. Yesus berkata Iblis sudah siap menampi engkau. Barangsiapa merasa rohani, lebih baik dari orang lain kalimat yang sama untuk kita: Iblis sedang siap menampi engkau. Namun Yesus melanjutkan satu kalimat: tetapi Aku telah berdoa untuk engkau.
Satu pokok doa yang Yesus bocorkan yaitu mendoakan orang yang sombong rohaninya. Yesus bisa mengucilkan Petrus lalu pilih rasul baru tetapi Yesus tidak kerjakan itu. Yesus mengetahui Petrus sekarang seperti ini karena belum mengerti bahwa seorang gembala harus melihat jemaatnya bukan dengan standar iman sang gembala. Kalau standar iman sang gembala maka semua jemaat sulit luar biasa. Gembala mesti dengan sikap rendah hati seperti seorang ayah menantikan anak bertumbuh, dari anak menjadi orang dewasa. Seorang Bapa memberi kesempatan kepada anak-anaknya, kalau salah dikoreksi, kalau kurang benar diarahkan, didisiplin supaya akhirnya menuju kepada standar yang dia mau. Tetapi sebelum tiba, dia dengan sabar menantikan satu per satu tiba. Kalau sudah tiba maka dia akan bersuka cita.
Pdt. Stephen Tong dalam hatinya ingin semua hamba Tuhan jadi besar, satu per satu dia orbitkan. Selama diorbitkan orang yang mau taat akan jadi, tetapi orang yang tidak mau taat atau jadi sombong sedang ditampi oleh Iblis. Petrus sok rohani tetapi Yesus telah berdoa untuknya. Yesus meluangkan waktu-Nya di dalam doa untuk menyebut nama Simon yang terang-terangan akan menyangkal Dia di hadapan umum. Saudara mau mendoakan musuh yang terang-terangan menyangkal kepribadian Saudara? Yesus mengetahui ada orang yang sudah Ia didik akan menyangkal-Nya di hadapan umum dan ini membuat Yesus sakit luar biasa tetapi Yesus mendoakan Petrus. Kalimat “jikalau engkau insaf” itu bisa setahun, bisa dua tahun, bisa selama-lamanya, tidak gampang katakan kalimat ini. Saudara kalau datang membesuk satu penjahat yang membunuh anak saudara lalu saudara mendoakan dia, doakan apa? Saya doakan “kiranya Allah menjatuhkan api dari langit” atau Saudara bilang “saya mendoakan engkau meskipun kau membunuh anakku tetapi jika engkau insaf jadilah hamba Tuhan yang baik”. Tidak gampang. Yesus berkata jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu. Itulah pesan Yesus sebelum membawa Petrus masuk ke dalam taman Getsemani. Tetapi Petrus merasa “kalau yang lain mau goncang iman, aku tidak. Yesus salah menubuatkan tentang nasibku.” Wah bahaya orang seperti ini, sudah bebal, sudah ditutup matanya oleh setan, tidak lagi bisa melihat fakta hidupnya yang rusak. Banyak orang waktu dengarkan firman bukan mengoreksi dirinya tetapi firman Tuhan itu mantul ke orang lain.
Kalau membaca tulisan Petrus, kita akan menemukan kalimat Tuhan Yesus “jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu” terngiang-ngiang dalam pikiran Petrus. Petrus terus mengingatkan semua orang yang melayani: aku mengingatkan engkau penatua gembalakanlah domba-domba Tuhan. Kenapa Petrus ngomong kalimat itu, karena Yesus pernah menantangnya: Apakah engkau mengasihi-Ku, Simon? Jikalau iya, gembalakanlah domba-domba-Ku. Maka di masa Petrus menulis kitabnya, dia mengerti semua teguran Tuhan Yesus. Petrus sebagai tokoh guru jemaat menguatkan saudara-saudara yang sedang di dalam penderitaan. Berarti doa Tuhan Yesus dikabulkan, tetapi menunggu waktu yang panjang.
Poin keempat, latar belakang dari Injil Yohanes. Perhatikan Yoh. 13:36-38 kita akan melihat ternyata perjamuan malam bukan hanya duduk pecahkan roti minum lalu bubar, salam-salaman. Menurut Injil Yohanes, Yesus mengajarkan semua doktrin penting di situ. Petrus tanya: Tuhan, kemanakah Engkau pergi? Di Yoh.14 Yesus mengajarkan: jangan gelisah hatimu. Yesus menjanjikan Penghibur, itu tentang Roh Kudus (Yoh.14:15). Nanti Yesus memberikan pengajaran: Akulah pokok anggur yang benar (Yoh.15) dan supaya kita saling mengasihi (Yoh.15:9). Lalu Ia menubuatkan bagaimana dunia membenci murid-murid-Nya (Yoh.15:8). Ini semua terjadi di malam terakhir. Di Yoh.16:4b Yesus bicara tentang pekerjaan Penghibur dan di Yoh.17 adalah doa Yesus yang sangat panjang, Ia berdoa untuk murid-muridnya. Setelah Yesus mengatakan semuanya itu keluarlah ia dari situ bersama dengan murid-murid-Nya dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron (Yoh.18), Ia masuk ke taman bersama murid-murid-Nya.
Jadi sebelum masuk ke taman, Yesus sudah mendoakan murid-murid-Nya. Yesus tahu dunia akan membenci semua murid tetapi sebelum itu membenci Yesus terlebih dahulu. Yesus mengajarkan doktrin Roh Kudus yang sangat penting di hari terakhir itu. Kita harus memahami doktrin Kristologi terlebih dulu baru mengerti doktrin Roh Kudus. Untuk mengerti Allah Tritunggal ada tahapnya. Pertama dalami dahulu seluruh Kitab Suci yang bicara tentang Yesus. Setelah belajar siapa Yesus, kita akan mengetahui siapakah Bapa karena Yesus berkata: barangsiapa lihat Aku, dia lihat Bapa. Pintu utama adalah Yesus. Setelah mengerti Yesus, Ia berkata: Aku akan mengirim Roh Penghibur. Kalau doktrin Kristologi tidak beres, bicara doktrin apapun tidak beres. Yesus membocorkan tentang nanti, kalau Dia pergi Roh Kudus akan dikirim. Berarti Yesus sudah mempersiapkan Diri-Nya pasti diterima karena nanti Yesus mati, bangkit dan naik ke surga. Waktu naik ke surga dalam kondisi menang, baru Roh Kudus turun.
Yesus sudah menubuatkan semuanya berarti waktu menghadapi taman Getsemani, taman penderitaan, Yesus sudah mempersiapkan hati. Aku pasti lulus, Aku pasti melewati itu. Di dalam kondisi seperti ini Yesus keluarkan satu rahasia: roh penurut dan daging lemah. Saya percaya itulah yang terjadi di taman Getsemani. Yesus bukan hanya bicara kepada para murid, ini bicara peperangan rohani yang terjadi di dalam diri semua manusia: antara roh yang penurut atau roh yang melawan atau daging yang penurut atau daging yang melawan? Saudara melihat secara roh Yesus mempersiapkan diri-Nya. Dia tahu Dia harus dimatikan tetapi secara kelemahan daging manusia, manusia menghindari kesakitan dan itu pergumulan yang luar biasa susah. Paulus mengatakan aku melatih tubuhku. Secara doktrin dia beres tetapi untuk tubuh ini sulit. Setiap kali mau melakukan yang baik ternyata yang dilakukan jahat. Ini keinginan daging.
Banyak orang tahu melayani itu baik tetapi waktu melayani kenapa tidak jadi-jadi karena urusan daging tidak beres. Kalau melayani Tuhan harus komitmen bayar harga. Petrus kenapa gagal karena daging tidak bisa dikuasai. “Masa engkau tidak bisa bertahan satu jam saja?” kata Yesus. Saya berdoa pada Tuhan agar jangan sampai suatu saat saya dengar khotbah saya tertidur karena di dalam Kitab Suci pernah muncul dua kasus: 1) Yesus dimuliakan di atas gunung, Ia mengajak Petrus, Yakobus, Yohanes dan mereka tidur. Mereka kelolosan satu berita penting yaitu tentang kematian Tuhan Yesus (lihat Luk.9:28). Pada saat tema khotbah kematian Tuhan Yesus dibicarakan dengan utusan Musa (wakil Taurat) dan Elia (wakil Nabi), Alkitab catat mereka tertidur. Mereka lolos pembicaraan tentang tujuan kepergian yang akan digenapi di Yerusalem. 2) Detik-detik akhir Yesus akan ditangkap, Yesus membawa lagi tiga murid inti ini masuk ke taman Getsemani dan tiga-tiganya tidur lagi. Di situlah Yesus keluarkan satu tema: roh penurut daging lemah. Tema ini menjadi pergumulan dari semua orang yang melayani Yesus.
Di taman Getsemani saya percaya Yesus bergumul poin ini juga, maka dia berkata jangan kehendak-Ku yang jadi tapi kehendak-Mu yang jadi. Yesus mengalahkan keinginan daging. Secara daging manusia akan hindarkan api yang panas, kena duri langsung melarikan diri. Waktu mereka tidur tidak lihat pemandangan hari itu yang sangat indah bagaimana sikap Yesus berdoa. Alkitab mencatat Yesus merebahkan Diri, kemungkinan telungkup. Satu sikap doa yang unik yang tidak pernah ada. Yesus keluarkan semua isi hati-Nya yang paling dalam yaitu kegentaran-Nya sampai peluh yang keluar itu bercampur dengan darah. Itu bicara daging. Setelah Yesus berkata kepada murid yang tidur sampai tiga kali sekarang Dia berkata: saat-Ku sudah tiba, berarti Yesus selesai mengalahkan semua, sekarang Ia siap diadili.
Saudara-saudara barangsiapa melayani Tuhan masih sampai kepada level roh penurut tetapi daging belum bisa dikalahkan orang itu belum bisa melayani Tuhan dengan maksimal. Apalagi rohnya tidak pernah menurut. Kita mesti ingat roh ini penurut. Daging lemah ini harus ditaklukkan. Barangsiapa menaklukkan semua ini dia akan menuju kepada satu penderitaan yang sesuai kehendak Tuhan. Tuhan mempersiapkan semua penderitaan. Alkitab sudah mengatakan dunia akan membenci kamu. Yesus berkata kepada Petrus bahwa kelak kamu akan ditangkap ke tempat yang kamu tidak mau pergi. Petrus nanti tidak larikan diri karena roh taat, daging taat kepada kehendak Tuhan. Barangsiapa melayani Tuhan harus melayani sampai tuntas. Masihkah saudara melayani Tuhan lalu akhirnya undur? Bertobatlah mulai hari ini. Saudara mesti menggenapkan taman Getsemani yang harus dilewati setiap manusia. Setiap orang punya taman Getsemaninya. Saudara mesti taklukkan lalu dengan suara keras berkata: kehendak-Mu yang jadi. Bangkit berdiri menghadapi kesulitan, itu baru gereja ada hari depan. Gereja Tuhan perlu orang yang jiwanya berkorban untuk Tuhan maka gereja akan bertumbuh. Amin. (VD)
